Minggu, 29 Januari 2017

Ini Baru Pebisnis

            Pada tanggal 29 Januari 2017 di rumah salah satu rekan kami, alhamdulillah telah dilaksanakan taklim M3 (Minggu Malam Mengaji) dengan menghadirkan pembicara Ust. Samsul Huda yang membawakan materi ‘Entrepreneur Muslim’. Peserta taklim ini berasal dari eks aktifis PII Kota dan Kab. Tegal yang kurang lebih berjumlah 10 sampai 20 orang. Agenda taklim dimulai dengan tilawah bergilir antara peserta kemudian dilanjutkan sambutan tuan rumah dan ketua pengurus M3, lalu masuk pada materi inti, tanya jawab / diskusi, info pengumuman dan yang terakhir penutup.
Pada kesempatan kali ini, kami ingin berbagi pada pembaca sekalian mengenai materi intinya saja yang semoga menginspirasi kita semua untuk lebih bersemangat menjadi entrepreneur muslim yang bermartabat di sisi Allah kemudian berwibawa pula di hadapan manusia. Karena pemateri kita kali ini telah berpengalaman beberapa tahun dalam dunia bisnis khususnya bidang busana muslim dan bisa dikatakan percepatan suksesnya lebih kencang dibanding dengan rekan-rekan sebidangnya. Siapa yang tidak kenal dengan Dinia House Of Hijab yang langsung dikelola oleh Ust. Samsul Huda? Menariknya pemateri kali ini, selain mempunyai basic leadership yang bagus, beliau juga sudah terkenal sebagai Da’i / Muballigh kondang plus juga termasuk KB PII Tegal (Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia). Apa saja kunci sukses beliau dalam berbisnis? Mari kita simak beberapa point di bawah ini.
Menurut beliau, seorang pebisnis pastilah menginginkan keuntungan atau pertambahan dalam setiap langkah bisnisnya. Ya iya lah, mana ada orang berbisnis yang ingin rugi?! Lalu sebagai pebisnis muslim, beliau mengingatkan kita dengan firman Allah l dalam Surat Ibrahim ayat 7 :
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ [١٤:٧]
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Jadi sudah jelas kesimpulannya, berbisnis adalah bersyukur dan mereka yang pandai berbisnis harus pula pandai bersyukur kepada pemberi rezeki yakni Allah k . Karena jika seorang pebisnis itu terus bersyukur maka secara otomatis Allah l pun akan terus memberikan tambahan nikmat dan keberkahan pada hamba tersebut. Di sinilah bedanya entrepreneur muslim hakiki dengan yang abal-abal, antara mereka yang sukses lagi berkah dalam berbisnis dengan mereka yang asal berbisnis tanpa dilandasi mindset yang cakap.
                Lalu point berikutnya, beliau menjelaskan bahwa jika kita telah mampu untuk senantiasa bersyukur dalam setiap keadaan bisnis, untung ataupun rugi kita tetap bersyukur, maka selanjutnya akan tumbuh sifat husnuzhon atau berbaik sangka. Dalam tahapan bersyukur tadi seorang pebisnis berusaha terus mengenal Rabb-nya, mencintai Pencipta dan Pemberi rezekinya sehingga dia merasa bahwa apapun yang Allah l berikan padanya semua itu merupakan hal terbaik baginya, untung ataupun rugi, semua pasti disyukuri dengan berhusnuzhon kepadaNya. Jika telah seperti ini keadaannya, maka otomatis seorang pebisnis muslim akan selalu bersikap positif di setiap sisi kehidupannya, baik dalam dunia bisnis ataupun sosial kemanusiaannya. Sehingga seolah-olah rezeki ingin berkata padanya,
 “Wahai pebisnis, betapa indah akhlak dan tutur katamu! Sungguh aku begitu jatuh hati padamu. Oh wahai engkau yang berbudi luhur, ambil-lah daku sebagai hadiah dari sisi Rabbmu.”

Hemmmm, coba bayangkan jika seandainya setiap pebisnis memiliki sifat-sifat utama tersebut; bersyukur, husnuzhon, positif akhlak dan tutur kata, pastilah rezeki itu benar-benar nempel seperti besi yang ‘ketarik’ pada magnet.
                Bisnis itu cerminan dari diri kita. Sebagaimana kita memberi ‘value’ pada produk kita, maka kita pun harus pandai membuat ‘value’ atau nilai tambah dalam diri kita. Dan secara garis besar, tiap diri manusia terdari 3 organ penting yaitu hati, akal dan fisik. Ust. Samsul Huda pun menambahkan bahwa hendaknya seorang pebisnis harus cerdas menambah ‘value’ pada hatinya dengan cara meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya pada Sang Pencipta dan Pemberi Rezeki serta menghindari penyakit-penyakit hati. Begitu pun dengan akal, hendaknya ia terus meng-update ilmunya, baik ilmu agama maupun ilmu dunianya agar dua sisi kehidupannya seimbang dan sama-sama melejit pesat. Dan yang terakhir adalah ‘value’ fisiknya. Apa jadinya jika seorang pebisnis tampilannya acak-acakan amburadul, bajunya tidak disetrika, celana bolong-bolong dan rambut tidak sisiran?? Kasihan banget yah, pasti para calon konsumennya pada lari darinya karena penampilan fisiknya yang tidak sedap dipandang mata. Jadi, pastikanlah bahwa ketika kita telah berniat menjadi seorang pebisnis muslim hakiki, camkan dalam hati untuk terus memberi nilai tambah baik di hati, akal dan juga fisik kita. Sehingga rezeki itu terus mendekat dan jatuh cinta pada kita, lebih mengejutkan lagi rezeki itu tidak mau berpindah lain hati, ciieee ciieeee.... ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar